Bart Simpson Graduation

Senin, 01 Juli 2013

Manusia dan Cinta Kasih

     Kebanyakan orang melihat masalah cinta ini pertama-tama sebagai masalah dicintai, lebih daripada itu masalah yang dicintai yaitu masalah kemampuan orang untuk mencinta, maka masalahnya bagi mereka ialah bagaimana supaya dicintai. setiap orang membutuhkan kebutuhan untuk mencinta dan dicintai. Cinta bukanlah terutama hubungan dengan seseorang tertentu. Cinta adalah sikap, sesuatu orientasi watak yang menentukan hubungan pribadi dengan dunia keseluruan, bukan menuju sesuatu obyek cinta. Jika seorang pribadi hanya mencintai satu pribadi lain dan acuh tak acuh terhadap sesamanya yang lain, cintanya bukanlah cinta, tetapi ikatan simbolik atau egoisme yang diperluas. Tetapi, menyatakan cinta adalah suatu orientasi yang menunjukkan pada segalanya dan bukan kepada salah satu hal saja. hal itu tidak berarti bahwa tidak ada perbedaan diantara tipe-tipe cinta berdasarkan obyeknya. Adapun tipe-tipe cinta adalah : 

A. Cinta Terhadap Allah  
     Bentuk religius cinta yang disebut cinta akan Allah, tidaklah berbeda, kalau berbicara secara psikologi. Cinta itu berasal dari kebutuhan untuk mengatasi keterpisahan, utnuk mencapai penyatuan. Kenyataan-kenyataan cinta terhadap Allah mempunyai sifat dan aspek yang berbeda sama banyaknya dengan cinta terhadap manusia dan dalam arti yang luas kita menentukan perbedaan-perbedaan yang sama. Didalam agama, entah yang bersifat politis atau yang monoteisme, Allah adalah mempunyai nilai yang tertinggi, kebaikan yang paling didambakan. Dari sebab tersebut Allah tergantung pada apa kebaikan yang paling dirindukannya oleh semua pribadi. Dari sebab itu timbul pengertian konsep Allah harus dimulai dengan analisis struktur ciri pribadi yang menyembah Allah. Cinta adalah rahmat, sikap religius adalah memiliki imam terhadap rahmat ini dan membuat diri kecil dan tak berdaya. Dalam mencintai terhadap Allah sebenarnya telah ada didalam kitab-kitab ajaran agama yang kita anut.

B. Cinta Persaudaraan  
     Merupakan persaudaraan adalah cinta diantara sesama, tetapi sungguh baik sebagai sesama, kita tidak selalu "sama" sejauh kita bersifat manusiawi, kita semua membutuhkan bantuan. Hari ini saya, besok engkau. Tetapi kebutuhan akan bantuan ini tidak berarti bahwa yang satu tak berdaya, yang lain berkuasa. Ketidak berdayaan itu adalah bersifat sementara, kemampuan untuk berdiri dan berjalan diatas kaki sendiri adalah keadaan tetap dan sama.

C. Cinta Keibuan  
     Cinta keibuan adalah penguatan tanpa syarat terhadap hidup dan kebutuhan anak. Penguatan (afermasi) hidup anak mempunyai dua segi, pertama, ialah perhatian dan yang kedua ialah tanggung jawab yang mutlak perlu demi pemeliharaan hidup anak dan pertumbuhannya. Cinta keibuan menanamkan kedalam anak cinta akan kehidupan dan tidak hanya keinginan untuk tetap hidup. Sangat berlainan dengan cinta persaudaraan dan cinta erotis, yakni cinta sesama orang (setara), hubungan ibu dan anak pada hakekatnya cinta diantara orang yang tidak sama, dimana yang satu memerlukan segala bantuan dan yang lain memberikannya. Justru karena ciri altruistis dan tidak mementingkan diri inilah maka cinta keibuan telah dipandang sebagai jenis cinta yang paling tinggi, dan yang paling suci dari segala ikatan emosional. Cinta yang berlebih-lebihan dari orang tua terhadap anak akan menyebabkan masalah sosial, begitu pula sebaliknya.

D. Cinta Erotis  
     Cinta ini berbeda dengan kedua tipe cinta diaras. Cinta erotis adalah mendambakan peleburan, penyatuan dengan seseorang pribadi lain. Cinta ini bersifat eksklusif dan tidak universal. Cinta erotis sering dicampurbaurkan dengan pengalaman yang meledak karena jatuh cinta diantara dua orang yang masih asing, setelah keduanya saling mengenal pribadi yang dicintai menjadi pribadi yang dikenal seperti dirinya sendiri. Tetapi keeratan ini cenderung makin lama makin berkurang dan sebagai konsekwensinya ialah seseorang mencari cinta dengan seorang pribadi yang baru dengan seorang asing yang baru, demikian seterusnya. Tipe cinta ini didorong oleh keinginan sexual. 

E. Cinta Diri Sendiri 
  Freud beranggapan bahwa cinta adalah manifestasi nafsu sexual yang diarahkan kepada oranglain/diarahkan pada dirinya sendiri atau cinta diri (self love). Berpegangan bahwa pribadi yang mementingkan diri itu bersifat "narsisistis", seolah-olah ia telah menarik cintanya dari oranglain dan mengalihkan pada dirinya sendiri. Teori hakekat sifat mementingkan diri ini dibuktikan oleh pengalaman resiko analisis mengenai hal tidak mementingkan diri yang bersifat neoritis yaitu gejala yang dapat dikalangan luas yang biasanya terganggu bukan gejala itu tetapi oleh hal-hal lain yang berhubungan dengannya, seperti rasa tertekan, kelelahan,ketidakmampuan bekerja, kegagalan dalam bermain cinta dst. Dengan demikian ia menjadi seseorang pribadi yang besar, berbudi yang selain mencintai dirinya sendiri ia juga mencintai semua orang lain dengan cara sama. 

 CINTA KASIH DALAM KELUARGA

     Cinta kasih orang tua terhadap anak itu adalah suatu cinta yang disertai dengan kasih sayang. Cinta kasih tersebut diberikan secara tulus dan ikhlas seolah-olah anak itu adalah merupakan bagian dari dirinya sendiri. Seorang anak yang tak pernah mendapat kasih sayang dari orang tuanya kemungkinan besar dia akan hidup liar. Cinta yang dirasakan orang tua terhadap anaknya itu berdasarkan 2 segi yakni : segi pengabdian dan segi kesukaan. Menurut orang tua mencintai anaknya secara merata dalam arti pengabdian yang sama terhadap setiap anak. Mereka mencoba untuk tidak berat sebelah. Mereka ingin agar masing-masing anaknya berhasil dan bahagia. Orang tua rela berkorban untuk tujuan tersebut. 
     Kasih sayang orang tua itu adalah dampak positif dan ada dampak negatifnya. Dampak positifnya adalah apabila orang tua tersebut memberikan kasih sayang kepada anaknya secara apa adanya, artinya kasih sayang yang tak berlebihan. Jadi hal tersebut membuat anak menjadi manja. Kekurangan usaha yang ikhlas dari orang tua dapat mengakibatkan beberapa hal yang kurang baik bagi si anak. Cinta kasih orang tua terhadap anak sendiri berbeda dengan cinta kasih orang tua tergadap anak orang lain. 
     Jika dilihat dari segi kesukaan semua orang tua mempunyai cinta kasih yang sama serta memberikan perlakuan yang sama kepada setiap anak mereka. Anak laki-laki disukai karena sifat laki-lakinya, sedangkan anak perempuan disukai karena sifat perempuannya. Sayang orang tua terhadap anaknya bisa karena sifat gembiranya, sifat sungguh-sungguhnya, sifat yang ingin menyenangkan orang lain dsb. Kesukaan tersebut timbul berdasarkan sifat yang sangat berbeda. Setiap orang tua selalu menghadapi sifat yang sangat kompleks dari si anak. Tanggapan orang tua terhadap sifat anak tersebut juga mempunyai suatu kelompok yang kompleks juga. 
     Ada orang tua yang selalu jengkel akan segala tingkah laku yang diperbuat anaknya. Terhadap anaknya mereka tidak merasakan arus kemesraan yang timbul dengan sendirinya, seperti yang mereka rasakan terhadap orang lain. Kejengkelan tersebut bisa timbul pada anaknya sewaktu anak tersebut masih kanak-kanak bahkan ada yang sampai dewasa. Sejak apa yang dikatakan maupun yang diperbuat anak selalu menimbulkan rasa marah pada orang tuanya. Seolah-olah perbuatan si anak tersebut selalu salah. Hal tersebut sebenarnya mereka sadari. Mereka sebetulnya sudah berusaha untuk memperbaiki tingkah lakunya dan berusaha untuk mencintai anaknya dengan sepenuh hati. Cinta kasih yang diberikan orang tua tersebut ada dampak positifnya dan dampak negatifnya. Dampak positifnya apabila kasih sayang tersebut diberikan secara apa adanya, artinya memberikannya itu tidak berlebihan ataupun tidak kurang. Sedang dampak negatifnya adalah apabila kasih sayangnya tersebut diberikan secara berlebihan.




Dikutip dari :
M. Habib Mustopo, Manusia dan Budaya,1989

     

 
 

Selasa, 28 Mei 2013

Revolusi Kebudayaan

          Melihat perilaku generasi muda saat ini mungkin kita akan menghela nafas panjang, apakah budaya kita saat ini telah berevolusi? Mungkin benar, revolusi budaya saat ini seakan begitu deras mengikis secara perlahan akar budaya bangsa Indonesia, baik budaya bahasa moral serta agama. Banyak factor yang menyebabkan budaya local dilupakan di masa sekarang ini. Masuknya budaya asing ke Indonesia sebenarnya merupakan hal yang wajar, asalkan budaya tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa. Namun pada kenyataanya budaya asing mulai mendominasi sehingga budaya local mulai dilupakan.
            Suatu ironis kebudayaan sendiri dijauhi oleh anak muda sekarang. Tidak habis piker mengapa kaum muda sekarang lebih suka ala boyband/girlband, sexy dancer, hip hop yang sama sekali tidak mencerminkan ciri khas budaya Indonesia yang ramah, sopan dan berkepribadian luhur. Di salah satu daerah beberapa waktu lalu tepatnya di lapangan Murjani tarian tidak etis yang sering dikenal sebagai sexy dancer ditampilkan dalam suatu acara promosi salah satu perusahaan rokok. Aksi tarian itu ditampilkan di depan anak-anak di bawah umur yang berjarak hanya beberapa meter saja.
            Bukanlah sesuatu hal yang aneh ketika pihak yang seharusnya mengingatkan malah ikut menikmati tarian energik yang identic dengan busana minim dipertontonkan tanpa ada pengawasan ataupun peringatan bagi anak di bawah umur. Sebagian orang menganggap itu hanya sebagai hiburan. Di mana letak pengawasan orangtua saat anak-anak yang harusnya berada di rumah malah dibiarkan berkeliaran bukan pada tempat dan waktunya?
            Dalam tinjauan psikologi perkembangan, peran orangtua dibutuhkan dalam mendampingi dan memberitahu bagaimana mereka bisa menyesuaikan diri pada perubahan, perkembangan dan adanya perbedaan di dalam lingkungan mereka. Anak-anak tidak bisa dibiarkan lepas ke dunianya sendiri.
Logika yang muncul, jika lingkungan mereka tidak tepat maka anak-anak ini akan mendapat dampak negatif, baik perubahan psikologinya ataupun kepribadiannya. Memang benar anak dibebaskan untuk memilih apa yang menurutnya itu cocok untuk dirinya. Di sinilah orangtua wajib mengarahkan dan membimbing. Pembelajaran seni tari pada anak usia dini sangat berpengaruh terhadap pola perkembangan anak yang ditandai dengan perkembangan motoric kasar dan motoric halus, pola bahasa dan pikir, emosi jiwa serta perkembangan social anak.
Di sekolah keprihatinan manakala keberadaan siswa didik kurang berminat terhadap seni budaya daerah, kata-kata yang terlontar dari mereka bahwa tari/lagu daerah itu kuno (ketinggalan jaman). Itulah persoalan yang menampar wajah dunia pendidikan saat ini. Apakah fakta tersebut bias dari program Ujian Nasional (UN) yang hanya menekankan factor pengetahuan (kognitif) belaka. Fakta keterampilan (psikomotor) kurang mendapat perhatian.
          Padahal pelajaran tari bukan bertujuan untuk mempelajari sikap gerak saja, namun juga sikap mental, kedisiplinan, sehingga pendidikan tari itu menjadi media pendidikan. Dalam bukunya tentang pendidikan Ki Hadjar Dewantara menuliskan, tari anak-anak akan memberi pengaruh terhadap ketajaman pikiran, kehalusan rasa dan kekuatan kemauan serta memperkuat rasa kemerdekaan. 

Kesimpulan :
Dalam artikel tentang revolusi sebenarnya emang hampir sama dengan evolusi kebudayaan. Karena keduanya sama-sama mengkiblatkan kebudayaan dari luar. Remaja-remaja mungkin sudah terlanjur jatuh cinta dengan kebudayaan dari luar. Mungkin sudah tidak banyak yang mengetahui kebudayaan dari negara kita atau dari daerah kita sendiri. Karena kebudayaan dari luar lebih menarik daripada kebudayaan milik negara dan daerah kita sendiri yang harusnya dilestarikan agar anak dan cucu kita bisa mengetahui kebudayaan yang dari dahulu sudah ada.


Referensi :
http://aspandang.blogspot.com/2012/06/revolusi-budaya.html